Bagas Ravera Enggar Pratama Fauzi

modal kami hanya empati dan simpati

Modal Kami Hanya Empati dan Simpati

Saya senang bisa sekolah lagi. Satu tahun saya tidak sekolah karena tidak ada biaya,” kata Huseini Nur (18), siswa Kelas II IPA SMA HMPTI, Kecamatan Banjar Agung, Tulang Bawang, Provinsi Lampung.

Huseini adalah gambaran dari anak-anak para transmigran di Lampung yang hidup serba kekurangan. Keinginannya untuk bisa bersekolah mewakili ribuan anak transmigran yang putus sekolah di Lampung.

Sabtu (25/2) siang itu, dengan wajah berseri-seri ia dan beberapa siswa membantu para tukang yang tengah membangun gedung sekolah Yayasan Himpunan Masyarakat Peduli Transmigrasi Indonesia (HMPTI).

Lokasi sekolah khusus untuk anak transmigran yang putus sekolah itu tidak jauh dari jalan raya lintas timur Sumatera, sekitar tiga kilometer dari perempatan Pasar Unit Dua.

”Dinding sudah jadi, tinggal memasang rusuk atap sebagai tempat genteng. Kami membangunnya secara gotong royong, baik dana maupun tenaga pembangun. Seluruh siswa kami libatkan,” kata Kepala Sekolah SMA HMPTI Muslihudin.

Ketika Yayasan HMPTI Lampung dibentuk pada 2004, tenaga pengajar yang direkrut sempat pesimistis akan kelangsungan sekolah itu.

”Awalnya kami sempat putus asa. Wong ingin memberikan kesempatan anak transmigran yang putus sekolah supaya tetap bisa belajar saja sulitnya bukan main,” kata Sekretaris Yayasan HMPTI Lampung Suryo Wiyoto.

Semester pertama 20004/ 2005 terkumpul sejumlah siswa kelas I. Akhirnya, meski harus menumpang di SMK Nusantara di Kecamatan Banjar Agung, sekolah itu berjalan. Siswa SMK Nusantara belajar di pagi hari dan para siswa HMPTI belajar pada siang hingga sore harinya. Cara belajar demikian terjadi lagi tahun ajaran 2005/2006. Kali ini, mereka menumpang di SDN Tunggal Warga.

Dua tahun berjalan siswa HMPTI kini ada 180 orang sehingga membutuhkan gedung sekolah sendiri. Masyarakat Banjar Agung kemudian menghibahkan satu hektar lahan kepada Yayasan HMPTI untuk pembangunan sekolah itu.

”Seluruh pendanaan betul-betul bergantung pada donasi dari para donator. Modal kami betul-betul hanya simpati dan empati,” kata Suryo.

Pada 2005, sekolah ini mendapat bantuan dana operasional dari APBD provinsi sebesar Rp 25 juta. Selain itu juga ada dana Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) dari pemerintah pusat Rp 40 juta. ”Tapi, ya tetap habis untuk operasional,” kata Suryo lagi.

Syafril, guru pendidikan jasmani, merasakan betul betapa mengabdikan hidup sebagai guru di tempat terpencil yang terbatas pendanaannya adalah suatu tantangan. ”Saya setiap bulan paling cuma dapat beberapa ratus ribu rupiah. Tapi saya senang, mereka rajin dan tinggi semangat belajarnya,” katanya.

Kemandirian. Sikap itulah yang ingin dikembangkan sekolah ini. Berbekal keterbatasan dana, para guru menerapkan sistem belajar mandiri.

Sebagian besar siswa di sekolah itu adalah anak-anak para transmigran yang rumahnya berjarak belasan sampai puluhan kilometer dari sekolah.

Untuk menghemat biaya transportasi, para siswa diikutkan ke rumah tangga di sekitar sekolah itu, seperti pemilik toko atau pemilik kebun karet.

Suryanto (19), siswa Kelas II IPS SMA HMPTI, menuturkan, karena dia ikut pada keluarga pemilik kebun karet. ”Setiap pagi saya bangun pukul 03.00. Mulai subuh hingga pukul 12.00 saya bekerja di kebun, setelah itu baru sekolah,” katanya. (Helena nababan)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: