Bagas Ravera Enggar Pratama Fauzi

Perjuangan Anak SMA HMPTI Unit 2

Para remaja ini baru pulang. Setelah sejak siang berkutat dengan pelajaran di kelasnya. Mobil angkutan ini adalah satu dari dua mobil angkutan umum yang melayani murid sekolah ini. Sekilas para remaja belasan tahun ini tak berbeda dengan pelajar SMA lainnya, namun sekolah mereka berbeda dengan sekolah lainnya di kawasan ini, karena mereka bersekolah secara gratis.

Dua dari tiga remaja ini adalah Puspita dan Rukminah. Sejak delapan bulan yang lalu, keduanya bersekolah tanpa dipungut uang SPP dan uang bangunan, di sebuah Sekolah Menengah Atas di Tulang Bawang, Lampung.

Tugas-tugas rumah tangga yang sedang diselesaikan ini dikerjakan tanpa paksaan dari pemilik rumah. Mereka melakukannya sebagai balasan atas kebaikan pemilik rumah yang memperbolehkan mereka tinggal di rumah ini.

Mereka tinggal di rumah ini karena rumah mereka jauh dari sekolah. Ditambah kondisi jalur transportasi yang buruk, membuat jarak rumah mereka dengan sekolah ini sulit ditempuh. Idealnya, mereka tinggal di asrama. Namun karena keterbatasan dana, pihak yayasan pengelola sekolah menitipkan mereka kepada warga setempat, ataupun pondok-pondok pesantren.

Sebagai kompensasinya, murid-murid sekolah yang dititipkan ini, membantu meringankan pekerjaan pemilik rumah, baik di rumah, di kebun, maupun di toko.

Ini adalah Asnawi. Ia juga murid SMA gratis di Tulang Bawang, Lampung. Pagi hari sebelum masuk sekolah, pemuda berusia 17 tahun ini, membantu menyadap, dan merawat pohon karet di perkebunan milik bapak asuhnya. Ia merupakan anak ke-enam dari tujuh bersaudara yang bercita-cita menjadi polisi. Orangtua Asnawi merupakan peserta program transmigrasi pada era tahun 80-an.

Sekolah gratis ini didirikan atas gagasan sekelompok orang yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Peduli Transmigrasi Indonesia (HMPTI). Mereka prihatin, karena taraf hidup keluarga transmigran di tempat ini masih jauh dari harapan.

Sekolah gratis yang didirikan pada tingkat Sekolah Menengah Atas, karena banyak anak-anak yang putus sekolah pada tingkatan ini. Yang dapat bersekolah disini adalah mereka yang berasal keluarga transmigran tidak mampu. Hingga tahun ini, muridnya berjumlah 140 orang.

Meski telah berdiri sejak dua tahun lalu, sekolah ini belum memiliki gedung sendiri. Mereka meminjam gedung sebuah Sekolah Dasar Negeri di Desa Banjar Agung.

Walau tidak dipungut bayaran, menurut Muslihuddin, Kepala Sekolah SMA HMPTI, antusiasme murid untuk mereguk ilmu di sekolah ini sangat tinggi. Karena inilah satu-satunya pilihan yang mereka miliki untuk menggapai cita-cita.

Mendapatkan pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang dijamin undang-undang dasar. Namun tak dapat dipungkiri, belum semua warga negara dapat menikmati pendidikan yang layak. Keberadaan sekolah gratis anak-anak transmigran ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena siapa tahu, para pemimpin bangsa ini kelak, merupakan lulusan sekolah semacam ini.(Idh)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: